Selasa, 27 November 2012

Hajir; Tempat Persinggahan Ketujuh Imam Husein as

Hari Selasa, tanggal 15 Dzulhijjah, Imam Husein as beserta rombongan tiba di tempat bernama Hajir. Tempat dimana orang-orang dari Basrah, Irak yang ingin pergi melaksanakan haji biasanya berhenti di sini. Di tempat ini pula Imam Husein as menjawab surat yang dikirim Muslim bin Aqil yang isinya ditujukan kepada warga Kufah. Surat ini dibawa oleh Qeis bin Mushir Shaidawi dan saudara sesusuannya Abdullah Yaqthir. Teks surat Imam Husein as sebagai berikut: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Dari Husein bin Ali kepada saudara-saudara Muslim dan Mukmin. Keselamatan atas kalian. Saya menyampaikan kepada kalian segala puji kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia. Amma Ba'du. Surat Muslim bin Aqil telah sampai ke tangan saya. Isi surat ini memberikan informasi kepada saya akan optimisme kalian dengan berkumpul bersamanya. Karena ia pondasi pendukung kami dan tempat untuk menerima kebenaran kami. Saya memohon kepada Allah Swt semoga memberikan kebaikan kepada kita dan pahala yang besar kepada kalian. Dari Mekah saya mulai bergerak menuju kalian sejak hari Selasa tanggal 8 Dzulhijjah, hari Tarwih... Ketika utusan saya sampai ke tempat kalian, maka hendaknya kalian bersegera mendekatinya dalam urusan pemerintahan. Seriusi urusan ini. Dalam beberapa hari lagi saya akan tiba di tempat kalian. Salam dan rahmat Allah untuk kalian.(1) Dua utusan Imam Husein as; Qeis dan Abdullah Yaqthir tertangkap di daerah Qadisiah oleh Hashin bin Namir.(2) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi) Catatan: 1. Al-Irsyad, 1/202, Bihar al-Anwar, 44/932. 2. Al-Irsyad, 2/70.

Dzatu Irqin; Tempat Persinggahan Keenam Imam Husein as

Satu tempat miqat, untuk memakai pakaian ihram, jamaah haji adalah daerah perbatasan antara Najd dan Tahamah. Daerah itu disebut Dzatu Irqin. Imam Husein as beserta rombongan tiba di Dzatu Irqin pada hari Senin, 14 Dzulhijjah.(1) Sekaitan dengan tibanya Imam Husein as di tempat ini, Allamah Majlisi menukil dari buku Tarikh ar-Rayyasyi: "Perawi mengatakan, ‘Saya melaksanakan ibadah haji dan memisahkan diri dari rombongan... Sehingga saya tiba di tempat dengan sejumlah kemah yang berdiri di sana. Ketika itu saya bertanya, ‘Mana pemimpin dari kemah-kemah yang ada ini?' Mereka menunjukkan kemah yang saya maksud. Saya berjalan ke depan. Tiba-tiba saya melihat Imam Husein as sedang bersandar pada kemah dan tampak sibuk membaca tulisan. Saya kemudian mengucapkan salam kepadanya. Setelah itu saya berkata, ‘Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu! Mengapa engkau berhenti di padang pasir yang gersang ini?' Beliau menjawab, ‘Mereka menakut-nakuti aku, sementara yang kau lihat ini adalah surat-surat yang dikirimkan penduduk Kufah kepadaku. Padahal saya tahu bahwa mereka adalah pembunuhku nanti. Bila mereka melakukan hal ini ... dan menghina kesucian ilahi, maka akan bangkit seseorang dari mereka dan membunuh mereka, sehingga mereka terlihat lebih hina dari kain yang terkena darah haid."(2) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi) Catatan: 1. Mu'jam al-Buldan, 4/107, Marashid al-Ittila', 2/932. 2. Bihar al-Anwar, 44/369.

Wadi Shafra; Tempat Persinggahan Kelima Imam Husein as

Imam Husein as hari Ahad, tanggal 13 Dzulhijjah tiba di tempat bernama Wadi Shafra atau lembah Shafra. Lembah ini berada ke arah Madinah dan rindang dengan pepohonan kurma dan tempat pertanian. Tempat ini merupakan jalur jamaan haji, dimana sumber air mengalir di sana.(1) Di tempat ini, Mujamma bin Ziyad dan Abbad bin Muhajir(2) bersama sejumlah warga Madinah(3) bergabung dengan Imam Husein as. Mereka bersama Imam Husein as dan rombonga berangkat hingga ke Karbala dan setelah berperang dengan gagah, mereka gugur syahid.(4) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi) Catatan: 1. Al-Imam Husein wa Ashabuh, 1/159. 2. Abbad bin Muhajir bin Abi Muhajid Jahni dan Mujamma keduanya berasal dari satu kabilah. 3. Abshar al-Ain, hal 201. 4. Al-Imam Husein wa Ashabuh, 1/159)

Minggu, 25 November 2012

Wadi Aqiq; Tempat Persinggahan Keempat Imam Husein as

Tanggal 12 Dzulhijjah yang bertepatan dengan hari Ahad, Imam Husein as bersama rombongan tiba di tempat bernama Wadi Aqiq. Syeikh Jakfar bin Nama al-Hilli mengatakan, "Setelah bergegas dari Shiffah, Imam Husein as melanjutkan perjalanannya ke Wadi Aqiq."(1) Di tempat ini adalah sumber mata air dan pohoh kurma. Jarak dari Wadi Aqiq ke Mekah hanya tidak lebih dari empat tempat persinggahan.(2) Ibnu Nama mengatakan: "Di tempat ini Imam Husein as bertemu dengan seorang dari Bani Asad. Ia menyebut namanya Bisyr bin Ghalib. Imam Husein as kemudian bertanya kepadanya tentang warga Kufa. Ia menjawab, "Hati mereka bersamamu, sementara pedang mereka bersama Bani Umayah." Imam Husein as berkata, "Anda benar wahai saudara Bani Asad."(3) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Shiffah; Tempat Persinggahan Ketiga Imam Husein as

Shiffah merupakan tempat yang terletak antara Hunain dan Anshab, dimana para peziarah dengan mudah memasuki kota Mekah. Imam Husein as tiba di tempat ini pada hari Jumat tanggal 11 Dzulhijjah dan berhenti sebentar di sana bersama rombongan.(1) Di tempat ini pula Imam Husein as bertemu dengan Farazdaq bin Ghalib.(2) Imam Husein as kemudian bertanya kepadanya tentang warga Kufah. Farazdaq menjawab, "Hati mereka bersamamu, tapi pedang mereka bersama Bani Umayah. Sementara takdir di tangan Allah Swt." Imam membenarkan ucapan Farazdaq dan menyatakan hanya akan berserah diri pada takdir ilahi.(3) Imam Husein as mengucapkan selama tinggal kepada Farazdaq dan kemudian berpisah dengannya. Menurut Syeikh Mufid, setelah dari tempat ini Imam Husein as dengan bersegera menuju tempat bernama Dzatu ‘Irqin.(4) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi) Catatan: 1. Al-Imam Husein Wa Ashaguh, 1/154. 2. Mu'jam al-Buldan, 3/412. 3. Tarikh al-Umam Wa al-Muluk, 5/386 dan al-Irsyad, 2/67. 4. al-Irsyad, 2/67.

Tanim; Tempat Persinggahan Kedua Imam Husein as

Imam Husein as keluar dari kota Mekah bersama keluarga dan sebagian sahabat hingga sampai ke tempat berhama Adna al-Hill. Jarak dua farsakh dari kota Mekah terdapat daerah bernama Tanim yang mengarah ke kota Madinah. Tempat ini disebut Tanim, karena di sisi kanannya terdapat kawasan bukit bernama Na'iim dan di sisi kirinya bukit bernama Naa'im. Tempat ini terletak di lembah Na'iiman. Di Tanim, Imam Husein as menyewa sejumlah onta untuk keluarga dan sahabatnya. Onta-onta itu disewa dari rombongan warga Yaman. Kepada rombongan Yaman, Imam Husein as berkata, "Siapa yang ingin mengikuti kami ke Irak, maka uang sewanya selama diperjalanan akan kami berikan dan kami menyambut dengan baik kesediaannya. Sementara siapa saja yang siap bersama kami di pertengahan jalan, maka uang sewa ontanya akan kami berikan sesuai dengan perjalanan yang dilakukan." Setelah mendengar ucapan Imam Husein as, sebagian dari rombongan Yaman mengikuti rombongan Imam Husein as dan sebagian lainnya berpisah. (1) Di tempat ini juga tiba surat dari Abdullah bin Jakfar yang dibawa oleh dua anaknya; ‘Aun dan Muhammad. Begitu juga surat dari Amr bin Said bin al-Ash yang dibawa oleh Yahya bin Said, Gubernur Mekah. Imam Husein as menjawab kedua surat itu. (2) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi) Catatan: 1. al-Irsyad, 2/68) 2. Al-Imam Husein wa Ashabuh, 1/152 dan Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 5/ 385)

Abtah; Tempat Persinggahan Pertama Imam Husein as

Abtah nama daerah berpasir sebagai tempat lewatnya banjir dari lembah Mekah. Yazid bin Tsabit al-Bashri memiliki 10 anak laki-laki dan mengajak mereka untuk menolong Imam Husein as. Dari kesepuluh anaknya, dua orang bernama Abdullah dan Ubaidullah, bersama sejumlah pengikut dan pecinta Ahli Bait keluar dari kota Basrah dan bergabung dengan Imam Husein as di daerah Abtah. Beberapa orang lain yang ikut bergabung dengan Imam Husein as di Abtah antara lain; Amir bin Muslim, Salim, budak Amir dan Saif serta beberapa orang lainnya. Mereka masih sempat bergabung dengan Imam Husein as, padahal semua jalan dan jalur yang mengarah ke Imam Husein as di Basrah telah dikontrol. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)